05.44

Pengelolaan Sampah Oleh Anak Kos

Diposting oleh KOMUNITAS KOS

Sampah dihasilkan pada hampir setiap aktivitas manusia, tidak terkecuali oleh anak kost macam saya. Mulai dari sampah aktivitas kegiatan studi, aktivitas hidup sehari-hari yang terkait dengan makan, sandang dan tempat tinggal, serta hobi.
Ternyata diperlukan langkah jitu jika ingin ikut peduli lingkungan dalam hal pengelolaan sampah yang dihasilkan khususnya dari aktivitas makan sehari-hari.

Pada tulisan ini saya hanya mengulas soal sampah yang dihasilkan anak kost terkait dengan pemenuhan kebutuhan makan sehari-hari. Untuk anak kost ada dua kemungkinan yakni ada yang makan dengan jalan membeli dari tempat makan baik warung, rumah makan atau catering, sebagian kecil lagi ada yang memasak sendiri. Kalau yang memperoleh makanan dari luar ada yang memiliki kebiasaan makan di warung, atau ada yang membeli untuk dibawa pulang. Mungkin ada juga yang aktivitasnya bercampur karena ingin mendapatkan variasi makan yang tidak bersifat rutinitas.

Banyak sekali pertimbangan yang diambil sehingga setiap orang akan memiliki kebiasaan makan yang berbeda. Ada anak kost yang memilih untuk setiap kali makan di luar, sehingga dia tidak perlu repot harus menyiapkan atau membersihkan sisa dan peralatan sehabis makan.

Dalam kasus ini terkait dengan potensi sampah yang dihasilkan maka akan cukup positif karena tidak pernah ada sampah yang dihasilkan akibat aktivitas oleh yang bersangkutan. Penggunaan tempat makan dan minum yang disediakan oleh penjual tentu saja akan dicuci dan digunakan ulang di tempat penjualan. Kuantitas sampah yang dihasilkan relatif kecil dan menjadi tanggung jawab pihak penjual meliputi sampah bahan mentah saat pemasakan dan sisa makanan jika ada. Untuk kasus ini jenis sampah yang dihasilkan adalah sampah organik. Jenis sampah organik berupa sampah dapur seperti ini relatif lebih mudah untuk ditangani dengan jalan daur ulang menjadi kompos.

Jika seseorang memutuskan untuk memasak sendiri maka potensi jenis sampah yang dihasilkan adalah sampah sisa bahan dasar dan sisa makanan. Jenis sampah yang dihasilkan mayoritas adalah sampah organik juga.

Untuk kasus ketiga, yakni membeli makan untuk dibawa ke rumah, berpotensi menghasilkan sampah yang lebih kompleks. Jenis sampah adalah sampah organik dan anorganik, berupa plastik pembungkus dan wadah kemasan makanan. Apalagi sering juga pembelian juga meliputi tambahan minuman atau makanan pelengkap lainnya seperti kerupuk, tentu saja jumlah sampah yang dihasilkan akan bertambah.

Pertimbangan orang memilih kasus ketiga tersebut adalah karena dengan harga yang sama maka jumlah makanan relatif lebih banyak. Pada kebanyakan warung saat dibeli di tempat dan dibandingkan dengan dibeli untuk dibawa pulang, biasanya jumlah makanan lebih banyak yang dibawa. Demikian juga dengan minuman, jika diminum di tempat maka jumlahnya hanya satu gelas, tetapi jika dibawa pulang, minuman dan es yang dikemas akan jauh lebih banyak. Dengan isi kemasan lebih banyak, maka kalau sisa masih bisa untuk dimakan nanti. Untuk kasus makan di tempat, kalau tidak habis tentu saja tidak umum untuk minta dibungkus dibawa pulang, kecuali untuk menu-menu tertentu dengan harga yang relatif mahal. Dengan pertimbangan ini maka tentu saja ada beberapa orang yang memilih kasus ketiga ini. Bahkan bagi beberapa pihak dapat juga membeli satu porsi yang dapat dimakan untuk dibagi. Tetapi seperti telah disebutkan di atas bahwa pilihan ini menyebabkan jumlah sampah yang dihasilkan menjadi bertambah.

Makanan nasi yang sering dibungkus dengan kertas minyak atau plastik yang dilapis dengan kertas koran, selanjutnya diikat dengan karet gelang, dan terakhir dimasukkan ke tas plastik untuk membantu saat dibawa. Kalau menu lauk berkuah, umumnya lauk ini akan dikemas sendiri. Untuk menu kerupuk atau lauk pelengkap lain kadang juga dikemas tersendiri. Ada juga kedai makan yang mengemas makanan dengan menggunakan wadah styrofoam putih.

Untuk minuman umumnya akan disiapkan dalam plastik kemasan dan diikat dengan karet gelang serta diberi satu sedotan plastik. Tas pengemas umumnya dipisahkan sendiri dari tas pengemas makanan, karena menghindari pencampuran makanan yang panas dan minuman yang dingin. Jadi dapat dibayangkan jumlah sampah yang dihasilkan dari kebiasaan ini.

Meskipun merupakan langkah kecil akan tetapi kita perlu untuk selalu dituntuk peduli lingkungan. Untuk itu sebagai anak kost, perlu juga mencari cara mengatasi permasalahan sampah ini. Cara yang bijaksana tentu saja adalah dengan jalan 3R yakni reduce, reuse dan recycle.

Alternatif reduce adalah jumlah pembelian dikurangi dengan selang-seling kadang membeli dengan dimakan di tempat. Cara lain selalu membawa tas plastik untuk membawa bungkusan makanan, membawa wadah makanan semacam rantang kaleng atau rantang plastik sebagai pengganti wadah kemasan. Untuk minuman mungkin lebih baik dilakukan dengan jalan memasak air dan menyiapkan minuman sendiri.

Selingan yang lain adalah dengan memasak sendiri. Dengan memasak sendiri maka minimal jumlah kemasan dapat dikurangi. Soal ini yang menjadi kendala adalah masalah klasik, waktu untuk memasak tidak ada, kecuali masak mi, telur atau nasi goreng saja. Selain itu bisa dibilang, rasa masakan yang dihasilkan kadang tidak seenak kalau dimasakkan orang yang ahli masak. Tentu saja selesai masak masih harus ada acara tambahan untuk bersih-bersih alat masak dan dapur tempat masak. Jadi acara memasak sendiri hanya dijadikan pilihan alternatif saja, walaupun kadang kalau dihitung, jauh lebih bisa berhemat dengan jalan memasak sendiri.

Jadi, bila anak kost memilih cara ketiga, yakni membeli makanan di warung untuk kemudian dimakan di rumah, maka harus diperhatikan beberapa hal berikut ini:

1. Mengemas tas plastik kemasan dengan jalan dilipat rapi dan dikumpulkan. Permasalahannya adalah setiap kedai menyediakan tas dengan ukuran dan warna yang tidak sama, jadi saat dikumpulkan tas yang terkumpul juga beraneka warna. Tas ini juga sering bercampur dengan tas plastik lain yang diperoleh saat membeli dari toko lain atau supermarket.
2. Mengumpulkan karet gelang yang digunakan untuk mengikat kemasan
3. Selalu menghabiskan makanan dan menyisakan sampah organik seminimal mungkin. Apabila tetap dihasilkan sampah sisa makanan ini maka hendaknya dibuang dengan tidak bercampur dengan sampah jenis lain.
4. Memilih tempat makan yang tidak menggunakan styrofoam.

Untuk reuse dan recycle, sebagai anak kost mesti yang jadi hambatan adalah soal tempat dan fasilitas untuk penampungan sampah yang ada. Pilihan yang mungkin dapat diambil adalah dengan jalan dilakukan pengumpulan sampah anorganik ini yang berupa plastik, atau karet gelang. Untuk wadah kemasan makanan dan minuman jelas tidak mungkin dikumpulkan karena tercampur dengan makanan dan basah.

Untuk sampah kering maka setelah sekian lama akan terkumpul banyak. Hal ini juga jadi kendala tahap berikutnya, mau diapakan? Cara yang paling mudah tentu saja mengembalikan ke penjual kembali untuk digunakan kembali. Pada prakteknya untuk karet gelang, mereka mau menerima untuk digunakan kembali, tetapi untuk tas plastik mereka menolak karena enggan untuk menggunakannya kembali walaupun sudah terlipat rapi.

Demikian semoga dapat menjadi pertimbangan para mahasiswa, pelajar atau anak kost lainnya untuk tetap peduli terhadap masalah kelestarian lingkungan. Pada akhirnya masyarakat luas akan dapat meniru kebiasaan baik ini.

0 komentar: